Sambil termenung dalam sebuah senja yang berkabut di sebuah tempat di Jakarta, melepas pandang sejauh ufuk-ufuk yang menyemburat jingga, aku menulis sebuah cerita saat-saat dimana aku melewati perjalanan panjang dari Bandung, transit ke Jakarta menuju Semarang…
Aku bertemu dengan teman perempuan ku (Siska) di Bandara Jakarta setelah melewati perjalanan dari Bandung dengan kereta. Ketika di pesawat, Siska memberikan sebuah kado kecil yang terbungkus kertas biru dari seorang sahabat (Richard Hoe). “ini dari Richard” katanya.. Itu adalah sebuah gelang kayu yang aku kagumi ketika kami berjalan melihat barang seni kayu di Paris Van Java, Bandung.. Kepada Siska dia bilang, bahwa kado itu sudah dipersiapkan 2 bulan sebelumnya. Aku hanya menanggapinya dengan sederhana dan memberikan sms terima kasih setelah sampai di Bandara Achmad Yani Semarang dan berjanji akan membalas hadiahnya dalam sebuah momen yang khusus nanti.
Sepanjang minggu setelah itu aku rajin bertemu dengan Richard di kostan teman perempuan ku di sudut atas bukit Cimbeleuit. Pada tiap2 pertemuan kami, aku selalu saja menghabiskan waktu dengan berpikir tentang kapan momen waktu yang pas untuk membalas hadiah mu, sobat.
Seiring dengan waktu, akhirnya semua itu berlalu tiba2.. dan waktu memang pandai menipu dan merubah segalanya. Waktu emang tidak pernah bisa menunggu dan ditungu karena dia akan berlalu dengan egoisnya. Seperti itu juga teman ku datang dan pergi satu2, tanggal 7 Maret 2010 Richard Hoe meninggal secara tiba2 ketika pulang main futsal di Kebayoran, Jakarta.
Dalam upacara pemakamannya secara kristiani, teman perempuan ku berkata, “jangan pernah berpikir untuk memberikan sesuatu dalam sebuah momen yang khusus, karena setiap dentingan waktu kehidupan adalah waktu yang berharga”.
Belakangan, kata2 itu selalu terngiang dalam kepala ku, pun sekarang ketika aku tuliskan secara pelan2 cerita ini kepada kalian. Aku merenungi tentang semua hal yang telah aku lewati dan aku lakukan selama ini. Aku berpikir tentang banyak hal yang telah aku lakukan dan tidak menyadari bahwa semua orang disekelilingku merupakan orang yang istimewa (setidaknya menurut ku).
Aku mulai berpikir tentang kata2nya di pemakaman tempo hari dan sungguh menyedihkan mendapati diri ku meghabiskan sedikit dari sekian banyak waktu bersama keluarga dan teman2 yang teristimewa. Aku tersadar dan mengutuki diri ku bahwa aku menyia2kan sekian banyak waktu untuk menghargai dan berbagi terima kasih dengan mereka.
Aku berdiri termenung dalam bangunan lantai tiga di Jakarta dan memandang kosong ke angkasa dengan berjanji bahwa aku akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga dan teman2 dan mengurangi waktu dengan keasikan dunia ku. Aku ingin mencoba menikmati saat2 itu.
Aku ingin menulis, melihat, mendengar dan melakukannya sekarang. Aku tak begitu yakin apakah Richard tahu apa yang aku pikirkan, mulai sat ini aku akan melakukan banyak hal yang tidak biasa ku lakukan dalam agenda waktu ku yang dihabiskan dengan perpustakan, toko buku, kesenangan pribadi atau rutinitas kerjan. Aku mulai menulis daftar semua orang yang pernah aku kenal dengan baik, menyapa dan menelpon mereka untuk sekedar bercerita tentang indahnya belaian angin senja, mengenang ketololan ketika kita remaja, meminta maaf atas semua khilaf yang pernah aku lakukan dan berusaha untuk memperbaiki setiap perselisihan yang terjadi pada masa lalu.
Ini adalah sebuah kesalahan, menyadari akan pentingnya sesuatu ketika sesuatu itu tak pernah ada lagi dalam kehidupan kita. Dan aku sungguh marah serta mengutuki diri karena kebiasan buruk ku menunda untuk melihat dan menyapa semua teman pada suatu hari nanti, pada sebuah momen yang khusus. Dan malam ini, aku memulainya dengan orang tua, adik2, dan teman terbaik ku dan mengatakan bahwa aku benar2 menyanyangi mereka secintanya cinta, setulusnya tulus. Aku ingin mengatakan bahwa mereka adalah orang2 yang selalu hadir dalam tiap2 jenak doa ku. Aku berusaha keras untuk tidak menunda, menahan diri untuk menyampaikan sesuatu.. Kawan, dalam tiap2 kesalahan yang pernah aku buat, pulung lah penyesalan ini bahwa setiap hari, setiap desahan nafas adalah momen berharga anugerah Tuhan..
Bukankah ini merupakan sebuah ketololan ketika kau berpikir tentang bagaimana waktu tampaknya menyelinap pergi dengan begitu cepat dan kau merasa bahwa kau telah membuang banyak momen yang berharga. Ketika masa penyesalan itu datang, kita akan berpikir andai Tuhan akan memberikan kita satu kesempatan lagi untuk menunjukkan perasan sayang dan kasih kita pada orang2 terdekat. Yakinlah, bahwa kau akan mendapatkan diri mu dalam penyesalan seumur hidup mu..
Kalau kau tahu bahwa hidup berjalan dengan begitu singkat, kenapa tidak kau lakukan saat ini untuk menyampaikan bahwa kau sangat menyayangi semua orang terdekat mu sebelum kita benar2 kehabisan waktu untuk menyampaikannya dan meratapi diri karena tidak mau mengambil kesempatan sebelum waktu itu benar2 pergi. Cinta adalah sebuah kata yang menjelaskan bagaimana kita merasa sayang dan mengucapkan terima kasih karena semua orang2 terkasih selalu ada dalam setiap langkah perjalanan menuju impian kita.
Selamat Jalan buat “Richard Hue (oteng)”; asli gue kangen banget sama perut gentong lo. The Valley hambar tanpa lo, moga lo damai dalam kasih Tuhan bersama rengkuhan bidadari impian lo..

emm… i love…
i…
i love Allah,
i love Rasulullah,
i love my parents,
i love my brothers,
i love my sisters,
^_^b
btw, penampilan baru ya, kak?! sukses aja deh… barakallahu fiek ^^
yeah, i love Allah, Rasulullah, my parents, my brother, my fren.. semuanya dech
udah lama gak diurus di blog mpe lupa kalo pernah punya blog.. cuma lantaran ada waktu luang, mau ditulisin lagi dech minimal posting satu tulisan sebulan sekali.. hehehe
sukses yah adinda, saling mendoakan