CERMIN

mirror-mirror

Aku masih saja tertegun, siapa yang menyangka, seorang yang biasa memulai debut sebagai anak yang memiliki pusaran dua di kepala, biang masalah, selalu disumpahi memiliki masa depan suram, suka berkelahi, biang onar.. terbuang diantara kumpulan anak-anak di sebuah universitas di bogor.

Aku sedang sibuk menertawakan diri, kawan.. mengingat kenakalan yang dibuat beberapa tahun yang lalu. Suka main tendang-tendangan saat shalat ashar ketika mengaji sore di surau dan berakhir tragis, sujud dengan bokong yang dikibas sajadah oleh Pak Mubarok. Bermain pesawatan saat guru sedang membelakangi murid ketika menulis di papan tulis, aku ingat betul ibu guru itu teman, guru bahasa Indonesia ketika aku SMP. Aku sedang merenung, tertawa, menangis, mengadu dan memohon ampun.

Allah tahu begitu banyak kenakalan yang aku buat, Sungguh..Dia tahu.. tapi menunggu untuk membalasnya. Demikianlah aku sekarang, menyadari bahwa sesungguhnya kehidupan itu adalah cermin. Apa yang kita lakukan akan terbalaskan persis, tak lebih tak kurang. Jadilah aku sekarang, teman.. merenung, mengenang tentang berapa banyak kenakalan yang dibuat oleh anak-anak muda ini, membuat ku serasa mau mati berdiri.. ketika menjelaskan sesuatu di depan, mereka asik dengan dunia mereka sendiri, yang entah dimana. Semacam sensasi mengajar anak yang mengidap penyakit autis di sekolah luar biasa. Ketika bicara soal materi kuliah, diantara mereka ada yang kejang, dugaan ku dia terkena epilepsi stadium tiga. Ada yang bergosip ria, persis dengan tingkah ibu-ibu PKK. Melihat tingkah mereka, aku menghitung waktu berapa lama lagi aku akan jadi “gila”.

~ by menantangbatas on January 11, 2009.

Leave a Reply