•July 16, 2008 •
No Comments

Sahabat saya memberikan sebuah tulisan yang sangat menyentuh. Berceritakan seorang lelaki tua yang diberikan beberapa cobaan, tetapi yang menarik, bahwa lelaki tersebut tidak penah mencoba untuk berpendapat tentang kejadian buruk yang menimpanya. Dia percaya bahwa semua itu sudah ada jalan ceritanya sendiri dan baru bisa kita pahami bila sudah menjalani kehidupan itu sendiri.Saudaraku, Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian.
Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2 : 216)
Posted in Uncategorized
Tags: buku, kehidupan
•June 13, 2008 •
No Comments

Suatu hari aku pernah bertanya kepada seorang pak tua pengangkut barang di stasiun gambir, dimana tepatnya letak jalan juanda III. Dia balik bertanya “pertama di Jakarta ya, mas? “Nggak, udah berapa kali tapi belum pernah ke Jakarta Pusat”. Kemudian dia bertanya, “udah lihat monas??” sahut pak tua. “Belum “ kataku, “klo belum lihat monas artinya itu belum ke Jakarta mas, klo udah pegang monas, baru mas dinisbatkan sebagai pengunjung Jakarta ke sekian” jawab pak tua mengulum senyum.
Aku tertawa saja, kemudian berlalu pergi setelah ia menunjukkan kemana arah yang harus aku jalani. Setelah aktivitasku usai, dikejar oleh penodong tak membuat semangat ku surut, untuk memegang monas. “Ini untuk pak tua”, bisikku. Pada saat senja ketika menunggu kereta aku bertemu kembali dengan pak tua, “pak, saya udah pegang monas”, seketika itu dia menyalami ku dan tersenyum lebar, “selamat datang mas dijakarta”.
Posted in Uncategorized
Tags: gambir
•June 13, 2008 •
3 Comments
Entah itu malam atau mungkin subuh, aku dan teman ku berdiskusi serius tentang sejarah cinta, setelah kita usai mengerjakan tugas kuliah. Dia memulainya, dengan berkata “cinta itu ndy, menginspirasikan munculnya kisah-kisah hebat di dunia”, tak sabar aku mendengarnya, “yang pertama kisah Napoleon Bonaparte yang menaklukan Eropa, Margareth Josephine lah yang jadi inspirasinya, si Fuhrer (kumis Charlie Chaplin) menjadi pemimpin Negara fasis yang disegani, kau tahu siapa dibelakangnya? “Maria Eva” jawabannya. Di tanah Jawa kita pernah dengar kisah Bandung Bondowoso yang membangun seribu candi dalam satu malam demi kekasihnya Roro Jongrang” katanya semangat. Tat lama kemudian dia berkata-kata lagi “nah klo kamu, kisah besar apa yang akan kau tuliskan dalam sejarah?”.
Aku kaget, akhir cerita yang ditutup dengan kesimpulan mengejutkan. Aku berkontenplasi sejenak, bagaimana nanti jika anak ku bertanya hal yang sama sebagaimana dulu aku bertanya tentang kisah ibu dan bapak ku dulu”. Bilakah dia nanti akan bertanya “Pak, apakah kisah cinta bapak dan ibu berlatarkan pangeran tampan dengan jubah ksatria lengkap dengan kuda dan pedang yang bertempur dengan nenek sihir yang menyandera seorang putri cantik di menara, atau bapak melompat bergelayutan di gedung-gedung pencakar langit sambil memeluk ibu?”.
Mungkin nanti aku menjawab, aku akan memulai kisah cinta ku dengan cara yang sederhana, bukan menguasai Eropa, bertempur dengan nenek sihir, atau apapun lah. Tapi ku awali kisah ku dengan kisah lelaki sederhana yang melempar jendela kamar ibu mu dengan batu, kemudian berteriak membaca puisi cinta di bawah jendela tatkala purnama , atau kisah lelaki sederhana yang bersedia menemani ibu mu tatkala senja, atau berjingkrak2 histeria tatkala ia berduka. Nah sekarang, bagaimana kau menulis cerita cinta mu nanti teman??
Posted in Uncategorized
Tags: cerita cinta
•May 14, 2008 •
No Comments

Tentang rasa takut yang berkarat
Kesedihan yang diam-diam menyelinap
Besar ingin ku cakar dan ku lumat
Pergi…..!!!!
Takkan pernah lagi kau dapat
Untuk patahkan ku punya semangat
Posted in Uncategorized
Tags: lilin, semangat, takut
•May 14, 2008 •
No Comments

Suatu ketika seorang murid menceitakan keluh kesahnya akan perasaan yang nestapa karena suatu cobaan kepada sang guru. Dengan tatapan kasih, sang guru memberikan suatu nasihat kecil, ”Coba Ananda, masukkan segenggam garam ke dalam gelas yang berisi air, kemudian ananda minum, apa rasanya?”. Sang Murid ini menjawab “rasanya sangat asin sekali guru, hingga membuat bibir ku terasa kelu”. Sang guru pun tersenyum, ”coba ananda lemparkan garam tersebut ke telaga, kemudian ananda minum air dari sana, apa rasanya?”. Sang Murid pun menuruti perintah dari sang guru, “rasanya lebih segar guru, tidak seperti air di dalam di dalam gelas tadi”.
Saudaraku, sesungguhnya cobaan, rintangan, hambatan atau apapun namanya yang kerap mematahkan langkah kita, ternyata besarnya hanya segenggam garam, tidak lebih tidak kurang. Yang menjadi masalah adalah, seluas apakah hati kita menampungnya, apakah hanya sebatas gelas atau seluas telaga.
Posted in Uncategorized
Tags: cobaan, eindye, garam, rintangan, senja
•May 14, 2008 •
No Comments

Dalam kesepian yang bertalu
Tataran angin sendu
Terbungkus lusuh dalam diri yang rapuh
Disini aku masih menunggu
Lantaran cinta tak pernah lapuk
Dimakan pengerat yang bernama waktu
Posted in Uncategorized
Tags: lapuk, menunggu, waiting, waktu