Catatan Akhir Sekolah

•March 2, 2009 • Leave a Comment

cassss1

Semalem, lagi ngutak-atik file di computer, eh.. tiba… ada film lama yang aku simpan dan lupa dimana diletakkan. Pengennya langsung dihapus, tiba-tiba sayang juga, demi nonton nich film, aku relain ninggalkan kerjaan selama 1,5 jam + waktu konservativ 1 jam hanya untuk mengenang masa indah yang nyangkut banget ma kisah ini.

Film ini mengisahkan tiga bersahabat Alde (Marcel), Arian (Vino) dan Agni (Ramon) yang biasa disingkat dengan A3. Mereka dikenal sebagai geng dengan reputasi cupu.  Termotivasi untuk tidak menjadi orang yang “basi”, merekapun bermaksud untuk memberikan persembahan kepada sekolah mereka,  berupa sebuah film dokumenter sekolah.

Entah sudah berapa kali aku nonton film ini, tetapi anehnya sensasinya masih tetap sama “mengharubiru” pa lagi diawal dan akhir ceritanya dibuka oleh lagu “ I remember” nya Mocca – gilee makin maknyos aje… Film ini so real dan melempar kita kembali ke jaman masih SMU dulu. Suasananya, semangatnya, persahabatannya… cool banget dah.. jadi inget ma sohib sma dulu… klo kalian baca… I remember, all the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn..

Mocca – I Remember [OST Catatan Akhir Sekolah]

I remember…The way you glanced at me, yes I remember
I remember…When we caught a shooting star, yes I remember
I remember.. All the things that we shared, and the promise we made, just you and I
I remember.. All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn

Do you remember..?
When we were dancing in the rain in that december
And I remember..When my father thought you were a burglar
I remember.. All the things that we shared, and the promise we made, just you and I
I remember.. All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn

I remember.. The way you read your books,
yes I remember
The way you tied your shoes,
yes I remember
The cake you loved the most,
yes I remember
The way you drank you coffee,
I remember
The way you glanced at me, yes I remember
When we caught a shooting star,
yes I remember
When we were dancing in the rain in that December
And the way you smile at me,
yes I remember

Apakah Kau Ingat?

•February 16, 2009 • Leave a Comment

Apakah kau ingat disuatu ketika, dimana saat senja temaran ketika sang raja pulang keperaduan, kita sama-sama mencoba menoreh mimpi untuk selalu menjadi matahari? Kau ingat bagaimana nakalnya kita menari diantara mendung hujan yang terusap oleh indahnya tebaran pelangi? Ketika itu kita mematri janji, takkan gentar biarpun badai dan derasnya hujan akan bahasi tanah ini.

Aku ingat, saat kita tertawa bersama dengan kerasnya disuatu ketika bulan Mei itu, kawan. Saat dimana kita terpaksa berpisah untuk menjalani takdir kita sendiri. Aku selalu ingat.. bahwa suatu saat nanti kita berjanji akan bersama-sama berkumpul disurau ini, sholat dhuha diwaktu pagi sambil bersenandung kecil memandang indahnya hari.

Dari sudut dunia, aku berdoa.. dimana disuatu ketika kita bisa bertemu dan bercerita.. betapa sepinya menjalani hari-hari tanpa kalian, teman. Sahabat yang selalu memberi semangat diantara keterbatasan dan ketidakmungkinan, yang memberi keyakinan indahnya ujung penantian diantara jalan yang penuh dengan rintangan dan mencegah bara itu surut biar selau tetap pasang.

CERMIN

•January 11, 2009 • Leave a Comment

mirror-mirror

Aku masih saja tertegun, siapa yang menyangka, seorang yang biasa memulai debut sebagai anak yang memiliki pusaran dua di kepala, biang masalah, selalu disumpahi memiliki masa depan suram, suka berkelahi, biang onar.. terbuang diantara kumpulan anak-anak di sebuah universitas di bogor.

Aku sedang sibuk menertawakan diri, kawan.. mengingat kenakalan yang dibuat beberapa tahun yang lalu. Suka main tendang-tendangan saat shalat ashar ketika mengaji sore di surau dan berakhir tragis, sujud dengan bokong yang dikibas sajadah oleh Pak Mubarok. Bermain pesawatan saat guru sedang membelakangi murid ketika menulis di papan tulis, aku ingat betul ibu guru itu teman, guru bahasa Indonesia ketika aku SMP. Aku sedang merenung, tertawa, menangis, mengadu dan memohon ampun.

Allah tahu begitu banyak kenakalan yang aku buat, Sungguh..Dia tahu.. tapi menunggu untuk membalasnya. Demikianlah aku sekarang, menyadari bahwa sesungguhnya kehidupan itu adalah cermin. Apa yang kita lakukan akan terbalaskan persis, tak lebih tak kurang. Jadilah aku sekarang, teman.. merenung, mengenang tentang berapa banyak kenakalan yang dibuat oleh anak-anak muda ini, membuat ku serasa mau mati berdiri.. ketika menjelaskan sesuatu di depan, mereka asik dengan dunia mereka sendiri, yang entah dimana. Semacam sensasi mengajar anak yang mengidap penyakit autis di sekolah luar biasa. Ketika bicara soal materi kuliah, diantara mereka ada yang kejang, dugaan ku dia terkena epilepsi stadium tiga. Ada yang bergosip ria, persis dengan tingkah ibu-ibu PKK. Melihat tingkah mereka, aku menghitung waktu berapa lama lagi aku akan jadi “gila”.

Continue reading ‘CERMIN’

AKU INGIN

•November 11, 2008 • Leave a Comment

(Puisi ini aku ambil dari karya Sapardi Djoko Damono)

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Catatan dari sahabat

•July 16, 2008 • Leave a Comment

Sahabat saya memberikan sebuah tulisan yang sangat menyentuh. Berceritakan seorang lelaki tua yang diberikan beberapa cobaan, tetapi yang menarik, bahwa lelaki tersebut tidak penah mencoba untuk berpendapat tentang kejadian buruk yang menimpanya. Dia percaya bahwa semua itu sudah ada jalan ceritanya sendiri dan baru bisa kita pahami bila sudah menjalani kehidupan itu sendiri.Saudaraku, Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian.

Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2 : 216)

PERJALANAN SPIRITUAL

•June 13, 2008 • 2 Comments

Suatu hari aku kedatangan teman lama. Dia bercerita tentang nikmatnya menjelajah belahan dunia, ya semacam sensasi perjalanan spiritual mencari jati diri (aku lebih senang menyebutnya esistensyi sebuah diyi (ala kak yansen yang cadel “r”)) setelah berulang kali membaca Edensor, aku pun terinspirasi juga. Maka dimulailah pengalaman ku disuatu subuh, berkelana sendiri berjalan kaki dari kostan Jl. Tikukur menuju curug dago, gua jepang, gua belanda, curug ciomas hingga tembus ke maribaya….jalan kaki lagi ke puncak bukit yang hanya ada satu pohon besar, ingin rasanya aku kibarkan bendera disana, pertanda ada anak kampung yang pernah menjejakkan kakinya dalam perjalanan menaklukkan dunia.

Kegilaan ini tak sampai disana, dengan sedikit ajakan ada dua orang yang termakan hasutan. Dengan nada berkobar lantang, aku teriakkan, “ayo tantang batas mu, teman”. Perjalanan spiritual ini kami mulai dari mengarungi perbukitan di Bandung, Jatinangor, Sumedang Ujung, Lembang, dan yang paling gila menginap di masjid Depok dan Tanggerang.

Ini hanyalah kegilaan yang biasa teman, hanya sebuah perbuatan sederhana untuk menantang batas keberanian mu sebagai bekal menantang kehidupan dan mencoba mengumpulkan makna dari mozaik-mozaik hidup mu yang bertebar berserakan.

STASIUN GAMBIR

•June 13, 2008 • Leave a Comment

Suatu hari aku pernah bertanya kepada seorang pak tua pengangkut barang di stasiun gambir, dimana tepatnya letak jalan juanda III. Dia balik bertanya “pertama di Jakarta ya, mas? “Nggak, udah berapa kali tapi belum pernah ke Jakarta Pusat”. Kemudian dia bertanya, “udah lihat monas??” sahut pak tua. “Belum “ kataku, “klo belum lihat monas artinya itu belum ke Jakarta mas, klo udah pegang monas, baru mas dinisbatkan sebagai pengunjung Jakarta ke sekian” jawab pak tua mengulum senyum.

Aku tertawa saja, kemudian berlalu pergi setelah ia menunjukkan kemana arah yang harus aku jalani. Setelah aktivitasku usai, dikejar oleh penodong tak membuat semangat ku surut, untuk memegang monas. “Ini untuk pak tua”, bisikku. Pada saat senja ketika menunggu kereta aku bertemu kembali dengan pak tua, “pak, saya udah pegang monas”, seketika itu dia menyalami ku dan tersenyum lebar, “selamat datang mas dijakarta”.

CERITA CINTA KITA

•June 13, 2008 • 5 Comments

Entah itu malam atau mungkin subuh, aku dan teman ku berdiskusi serius tentang sejarah cinta, setelah kita usai mengerjakan tugas kuliah. Dia memulainya, dengan berkata “cinta itu ndy, menginspirasikan munculnya kisah-kisah hebat di dunia”, tak sabar aku mendengarnya, “yang pertama kisah Napoleon Bonaparte yang menaklukan Eropa, Margareth Josephine lah yang jadi inspirasinya, si Fuhrer (kumis Charlie Chaplin) menjadi pemimpin Negara fasis yang disegani, kau tahu siapa dibelakangnya? “ Eva Brown” jawabannya. Di tanah Jawa kita pernah dengar kisah Bandung Bondowoso yang membangun seribu candi dalam satu malam demi kekasihnya Roro Jongrang” katanya semangat. Tat lama kemudian dia berkata-kata lagi “nah klo kamu, kisah besar apa yang akan kau tuliskan dalam sejarah?”.

Aku kaget, akhir cerita yang ditutup dengan kesimpulan mengejutkan. Aku berkontenplasi sejenak, bagaimana nanti jika anak ku bertanya hal yang sama sebagaimana dulu aku bertanya tentang kisah ibu dan bapak ku dulu”. Bilakah dia nanti akan bertanya “Pak, apakah kisah cinta bapak dan ibu berlatarkan pangeran tampan dengan jubah ksatria lengkap dengan kuda dan pedang yang bertempur dengan nenek sihir yang menyandera seorang putri cantik di menara, atau bapak melompat bergelayutan di gedung-gedung pencakar langit sambil memeluk ibu?”.

Mungkin nanti aku menjawab, aku akan memulai kisah cinta ku dengan cara yang sederhana, bukan menguasai Eropa, bertempur dengan nenek sihir, atau apapun lah. Tapi ku awali kisah ku dengan kisah lelaki sederhana yang melempar jendela kamar ibu mu dengan batu, kemudian berteriak membaca puisi cinta di bawah jendela manakala malam purnama , atau kisah lelaki sederhana yang bersedia menemani ibu mu tatkala senja, atau berjingkrak2 histeria tatkala ia berduka. Nah sekarang, bagaimana kau menulis cerita cinta mu nanti teman??

Catatan Konyol

•May 14, 2008 • 1 Comment

Pagi ini bidadari membawa kabar dari atas angkasa

Bahwa Sang Tuhan menawarkan aku surga

Lengkap dengan layanan yang sempurna

Tak ada alasan untuk tak bahagia

Seketika, tersadar juga aku akan sebuah makna

Karena sesungguhnya hidup akan terasa hampa

Karena sebagai guru, dia tak mengajari aku apa-apa

Tentang rasa sakit, rasa gamang akan masa depan,

Beratnya sebuah perjuangan

Atau indahnya menggenggam cinta dalam sebuah penantian

Takut

•May 14, 2008 • Leave a Comment

Tentang rasa takut yang berkarat

Kesedihan yang diam-diam menyelinap

Besar ingin ku cakar dan ku lumat

Pergi…..!!!!

Takkan pernah lagi kau dapat

Untuk patahkan ku punya semangat